Demi Pariwisata, Adira Finance Ulurkan Tangan untuk Raja Ampat

Fitri Yulianti, Jurnalis · Sabtu 14 Juli 2012 13:23 WIB
https: img.okezone.com content 2012 07 13 52 663185 8n5Y290Dcg.jpg F: Adira di Sorong (Fitri Y/Okezone)

JAYAPURA - Memajukan pariwisata Indonesia bisa dilakukan dengan banyak cara dan oleh siapa saja. Bagi Adira Finance, tujuan tersebut juga harus meliputi wilayah paling timur Indonesia, yakni Raja Ampat.

 

Begitu banyak potensi pariwisata Indonesia yang belum dikembangkan lebih dalam. Selain kendala infrastruktur, promosi juga menjadi kendala lain untuk semakin mengenalkan Bumi Pertiwi ke mata dunia. Inilah yang kemudian disasar Adira Finances lewat kegiatan Coorporate Social Responsibility (CSR) di Raja Ampat, Papua Barat.

 

"Untuk mengangkat pariwisata bukan hanya berkaitan dengan tempat wisata, tapi juga tempat dengan seni dan budayanya," kata Willy Suwandi Dharma, Direktur Utama Adira Finance, saat berkunjung ke Desa Sawinggrai dalam rangkaian acara "Adira Beauty X-Pedition Jelajah Nusantara" di Raja Ampat, Papua Barat, baru-baru ini.

 

Pada program CSR kali ini, Adira Finances memberikan dua unit laptop serta stabilizer, dan dua kamera digital agar masyarakat Desa Sawinggrai dapat mempromosikan potensi wisatanya. Bantuan diterima oleh Yesaya Mayor Kepala Adat Desa Sawinggrai sekaligus seniman yang senantiasa menggerakkan program kepedulian budaya setempat.

 

"Saya buat sesuatu yang seperti ini untuk memperkaya negeri ini. Saya punya cinta pada negeri, makanya saya bisa punya budaya. Kita harus ada keinginan untuk menjaga agar budaya ini tidak punah dan hilang begitu saja. Kalau hilang, apa yang bisa kita ceritakan pada anak-cucu kita?" tuturnya.

 

Kepedulian pria yang akrab disapa Mayor ini dengan budaya daerahnya diwujudkan lewat wadah sebuah sanggar kecil. Di sanggar inilah Mayor mengajak para pemuda Desa Sawinggrai dan sekitarnya untuk menjaga budaya lewat kegiatan seni, seperti musik, pahat, kerajinan tangan, dan sebagainya.

 

"Beberapa kali kita lakukan ini, kadang terharu melihat orang-orang yang kita kunjungi, seperti Pak Mayor, yang berpikir jauh untuk menjaga budaya. Bagaimana bila kemudian Desa Sawinggrai didatangi banyak wisatawan yang mungkin merusak budaya, itu sudah dia pikirkan. Bagaimana Raja Ampat maju, tapi tidak hancur budayanya," papar Willy.

 

"Kita berharap perangkat ini bisa digunakan oleh Pak Mayor sehingga budaya Papua bisa disiarkan lebih luas lagi ke dunia, bisa dipromosikan dan semakin populer bukan hanya Indonesia, tapi juga dunia," tambahnya.

 

Diakui Willy, dampak positif kegiatan sosial memang tidak berdampak langsung bagi keuntungan perusahaan. Namun, Willy dapat merasakannya pada kultur perusahaan.

 

"Kultur cinta Indonesia menjadi secara tidak langsung tertanam pada karyawan. Kita berkegiatan lewat yayasan, dalam hal bantuan pengobatan, di mana karyawan bisa menyumbang. Ini meningkatkan kultur berbagi, tidak hanya perusahaan, tapi juga karyawan," tutupnya.

(ian)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini