Share

Mobil Jadi Taksi & Recall Masih Dianggap Negatif

Anton Suhartono, Jurnalis · Jum'at 04 Desember 2015 11:11 WIB
https: img.okezone.com content 2015 12 04 15 1260829 mobil-jadi-taksi-recall-masih-dianggap-negatif-OtXh6EzVY0.jpg Nissan Evalia menjadi armada taksi di New York, AS (Nissan Motor)

JAKARTA - Di Indonesia nilai prestisius sebuah merek mobil bisa jatuh di mata masyarakat jika dijadikan armada taksi. Hal ini akan memengaruhi konsumen pemilik mobil pribadi yang sama dengan model taksi tersebut. Kondisi ini jauh berbeda dengan di luar negeri, sebut saja di Amerika Serikat (AS).

"Sebenarnya di luar negeri, kendaraan dipergunakan sebagai taksi justru bagus. Berarti mobilnya kuat, karena untuk bisa menjadi armada angkutan seperti itu harus melalui tahapan pemeriksaan dan pengujian yang sangat ketat," terang Head of Datsun Indonesia, Indriani Hadiwidjaja di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut dia, untuk bisa menang dalam bidding ke perusahaan taksi di sana tidaklah mudah. Ia pun menceritakan saat Nissan Evalia memenangkan proses bidding sehingga bisa menjadi yellow cab di AS.

"Pastinya harus lolos tes keamanan, efisiensi, dan lain-lainnya. Jadi waktu Nissan Evalia menjadi yellow cab di New York, itu menjadi kebanggan banget. Itu kebanggaan bagi Nissan bahwa mereka menang bidding. Selain dari sisi kualitas, suatu produk bisa menjadi taksi itu punya arti yang positif. Relationship antara company dengan pemerintah berarti bagus. Berarti sesuatu yang dipercaya," terang dia.

Hal ini berbeda kontras dengan Indonesia. Indri pun menyamakannya dengan recall produk. Di luar negeri, seperti AS dan Eropa, recall memiliki arti positif karena menunjukkan bentuk tanggung jawab produsen mobil terhadap konsumen.

"Sama kayak recall. Recall itu kan sebenarnya bagian dari servis perusahaan terhadap konsumen. Kalau ada recall maka akan kami perbaiki sebagai bentuk pertanggungjawaban perusahaan. Tapi kalau di Indonesia, kalau recall itu berarti cacat produksi. Namanya kan juga produksi massal, ada campur tangan manusia di situ, belum full robotic. Potensi kesalahan aja saja," tukas dia.

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini