nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Akankah Petualangan Datsun Risers Expedition Berlanjut?

Randy Wirayudha, Jurnalis · Minggu 26 Maret 2017 10:06 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 03 25 15 1651063 akankah-petualangan-datsun-risers-expedition-berlanjut-2EkYQxpNee.jpg (Foto: Randy/Okezone)

JAKARTA - Rangkaian Datsun Risers Expedition (DRE) 2 berakhir di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada 23 Maret 2017.

DRE 1 digelar pada Mei 2015 hingga April 2016 dengan menjelajahi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Jarak tempuhnya mencapai 15 ribu kilometer. Penekanan pada DRE 1 adalah menguji durabilitas Datsun GO Panca dan GO+ Panca.

Sementara DRE 2 digelar lebih menitikberatkan pada eksplorasi budaya dan kesenian tempat-tempat yang dikunjungi. DRE 2 dimulai di Aceh sejak tahun lalu, selanjutnya digelar di Lampung, Cirebon, Malang, dan penutupan Makassar pekan lalu. Lantas, bagaimana dengan DRE 3?

"Itu yang sedang kami godok. Kami akan lihat lagi nanti masukan yang ada untuk event berikutnya. Apakah masih dengan bendera DRE misalkan? Bergantung tujuannya nanti," terang Christian Abraham Gandawinata, head of marketing Datsun Indonesia, kepada Okezone, beberapa waktu lalu.

"Kami masih akan memikirkan konsepnya, karena di DRE 1 kan segalanya tentang durability kendaraan. DRE 2 bukan tentang sales, tapi bagaimana kami ingin mengangkat kearifan lokal di daerah yang disinggahi, sekaligus merasakan performa Datsun GO Panca dan GO+ Panca," imbuh pria yang biasa disapa Age itu.

Sedangkan mengenai sukses atau tidaknya DRE 2, Age menjelaskan salah satunya indikatornya bisa dilihat dari peserta.

"Bagi saya, tolok ukur kesuksesan brand activity itu bergantung objective-nya. Khusus DRE 2 ini kami ingin mengangkat local culture atau local wisdom. Kedua, kami ingin para risers bisa berbagi hal itu. Itu kenapa 12 risers yang terpilih harus punya strong social media," lanjut Age.

Ia menerangkan, jika peserta memiliki banyak follower, maka local culture yang diperkenalkan bisa disebarluaskan serta menyosialisasikan secara digital dengan lebih luas lagi.

“Itu yang menjadi tolok ukur, berapa banyak engagement yang ada, seberapa besar awareness yang tercipta terhadap local wisdom dan culture di tempat-tempat yang disinggahi," tandasnya.

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini