Pedagang Mobil Bekas Menjamur, Ini Penyebabnya

Santo Evren Sirait, Jurnalis · Senin 17 April 2017 08:10 WIB
https: img.okezone.com content 2017 04 15 15 1668454 pedagang-mobil-bekas-menjamur-ini-penyebabnya-D8It7pKCLI.jpg Ilustrasi mobil bekas (Okezone)

TANGERANG SELATAN - Selain showroom mobil baru, pedagang mobil bekas (mobkas) juga berkembang dan menjamur, terutama di Jakarta dan kota besar lainnya. Sebelum marak seperti sekarang, untuk mencari mobil bekas, konsumen harus pergi ke bursa jual-beli mobkas di Pecenongan, Jakarta Pusat.

"Fakta dulu, kalau bilang sentra mobil bekas di Pecenongan. Begitu makin mahal sewa lokasinya, makanya muncul Pasar Kemayoran, lalu muncul lagi WTC Mangga Dua. Sekarang sentra mobil bekas di Jabodetabek saja sekurang-kurangnya ada 13, yang paling baru di BSD. Tidak hanya itu ditambah lagi sentra-sentra yang bentuknya bukan bursa, seperti ada di Cibubur, pinggir jalan Margonda, Depok, dan masih banyak lagi," ujar Hendro H Kaligis, business development PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, ke depannya pedagang mobil bekas akan tumbuh. Sebab modal untuk berinvestasi di bisnis jual beli mobkas murah.

"Investasi untuk masuk ke industri ini itu rendah. Punya uang Rp200 juta bisa dapat 2 sampai 3 mobil, ya beli saja mobil yang angka Rp60 jutaan. Jadi memang barrier entry-nya rendah jadi orang bisa dengan mudah masuk ke industri ini. Tapi apakah pedagang mobkas bisa bertahan," ungkapnya.

Antara showroom yang berada di bawah naungan agen pemegang merek (APM) dan pedagang individu memiliki perbedaan yang signifikan. Menurut dia, perbedaan yang utama adalah pelayanan.

"Suzuki Auto Value berkembang secara organik. Apa itu orgnik, jadi kita mendapatkan kepercayaan dari masyarakat karena pelayanan yang baik. Kompetisi itu antara pedagang mobkas enggak bisa diukur dalam hitungan bulan, satu tahun, dua tahun, tapi kompetisi itu long term. Kalau saya lihat pedagang mobil bekas yang bertahan di Indonesia karena dia melihat kompetisi itu maraton, bukan sprint. Yang kami lakukan maraton supaya masyarakat mengenal," pungkas Hendro. (san)

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini