Share

Mobil Sedan Dikategorikan Barang Mewah, Ketum Gaikindo: Itu Pemikiran Zaman 80-an

Santo Evren Sirait, Okezone · Rabu 31 Mei 2017 09:37 WIB
https: img.okezone.com content 2017 05 31 15 1703983 mobil-sedan-dikategorikan-barang-mewah-ketum-gaikindo-itu-pemikiran-zaman-80-an-S18hKt93ZV.jpg Sedan Suzuki Ciaz (Okezone)

JAKARTA - Sampai saat ini mobil sedan masih dikategorikan sebagai barang mewah. Akibatnya, setiap mobil sedan dikenakan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBm). Besaran pajaknya sekira 30%, berbeda jauh dengan mobil jenis MPV, SUV, dan hatchback yang hanya dikenai biaya pajak sebesar 10% Padahal secara spesifikasi mobil MPV, SUV, dan hatchback sudah mirip dengan sedan, lantas mengapa pajak sedan masih mahal?.

"Jadi gini ya, Ini ada mobil MPV PPnBm 10% ada ditambahin buntut (sedan) langsung PPnBm-nya 30%. Nah pemikiran ini dari zaman 80-an sehingga harus kita ubah di mana dulu dibilang MPV mobil orang yang enggak punya (penghasilan tidak tetap), lalu sedan mobil orang kaya jadi PPnBm naik," ujar Yohanes Nangoi, ketua umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), di Jakarta kemarin.

Akibat tingginya pajak, lanjut Nangoi, banyak konsumen yang tidak mau membeli mobil sedan. Hal itu berdampak pula pada produksi, karena pasar sepi maka pabrikan memilih melakukan impor tidak produksi di dalam negeri.

"Padahal kalau Anda lihat sekarang MPV sudah banyak jenisnya, ada yang mewah juga, merek top pun banyak MPV, nah itu PPnBm-nya murah. Nah efeknya orang enggak berani beli sedan karena harganya mahal sementara di Thailand sama (pajak tidak berbeda), jadi akibatnya sedan diproduksi semua di sana (Thailand) jadi datang ke Indonesia dari Thailand. Padahal market dunia itu mereka menginginkan sedan," terang Nangoi.

Gaikindo sempat berjanji akan mencoba mengajukan perubahan pajak sedan kepada pemerintah. Saat ini rencana tersebut masih dalam proses, tidak lama lagi Gaikindo akan menghadap ke pemerintah guna membahas hal tersebut.

"Kalau yang namanya PPnBm 30% dari 10 mobil tapi 10% dari 1.000 mobil lebih menguntungkan mana? itu kita mesti bikin studinya. Itu studinya kita sudah selesai tinggal kita paparkan ke mereka (pemerintah). Studi bukan dari kami, kita menggandeng institusi pendidikan yang terpandang. Kami sudah siap tinggal kami paparkan ke Kemenperin," pungkas Nangoi. (san)

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini