nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pelaku Bisnis Automotif Indonesia Menunggu Kejelasan Program LCEP

Santo Evren Sirait, Jurnalis · Rabu 14 Juni 2017 23:52 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 06 14 15 1716411 pelaku-bisnis-automotif-indonesia-menunggu-kejelasan-program-lcep-6UitXOByb0.jpg Ilustrasi pabrik mobil (Okezone)

JAKARTA - Low carbon emission programme (LCEP) merupakan proyek lanjutan dari Kendaraan Bermotor Hemat Bahan Bakar dan Harga Terjangkau (KBH2) atau dikenal juga dengan low cost green car (LCGC). Kriteria mobil yang masuk dalam program tersebut adalah memiliki mesin berkapasitas di atas 1.200 cc. Tidak hanya mobil bermesin konvensional saja, tapi bisa juga menjangkau kendaraan berbahan bakar gas dan bermotor listrik.

Berdasarkan kriteria itu hampir semua pelaku bisnis automotif menyatakan kesiapannya karena sudah memiliki teknologi untuk memproduksi mobil-mobil tersebut. Namun sampai saat ini belum ada kejelasan mengenai detail regulasinya.

"Yang harus digarisbawahi adalah Pemerintah harus mendefinisikan apa itu LCEP sebenarnya. Sampai sekarang definisi LCEP itu kan belum jelas, apakah kita berbicara tentang teknologi atau tentang konsumsi bahan bakar. Parameter yang dipakai itu apa. Begitu itu bisa didefinisikan saya pikir Nissan dan juga pemain automotif lain bisa mengambil langkah-langkah konkret," kata General Manager Marketing Strategy and Product Planning Nissan Motor Indonesia (NMI), Budi Nur Mukmin.

Ditambahkannya, Nissan sangat siap jika LCEP diberlakukan. Jajaran produk yang mendukung pengurangan emisi karbon dan irit bahan bakar sudah tersedia dan tinggal dimasukkan ke Indonesia. Tak hanya itu, mobil listrik pun siap dimasukkan ke Indonesia.

Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Amelia Tjandra, mengaku secara teknologi perusahaan sudah memilikinya, namun sampai sekarang peraturan LCEP belum diterbitkan.

"Kami grup Toyota, saat ini Toyota punya mobil berbahan gas, hybrid ada juga, jadi tinggal peraturan," katanya.

Namun, lanjut perempuan yang akrab disapa Amel, itu jika peraturan sudah dikelurkan antara ikut atau tidaknya Daihatsu ke LCEP bergantung pada banyak hal.

"Ya lihat dulu kebijakan itu cocok atau tidak buat kami. Ikut atau enggak kami mesti hitung-hitungan cocok enggak nih, volume berapa, kalau rugi buat apa, kalau begitu Toyota saja yang ikut program tersebut," terang Amel.

Sementara itu PT Honda Prospect Motor (HPM) belum mau bespekulasi jika ikut LCEP produk apa yang bakal dihadirkan.

"Nantilah, kalau sudah jadi peraturannya. Begini, sama seperti LCGC, menurut kami LCGC merupakan paket yang cukup lengkap karena pemerintah tidak hanya mensyaratkan dari segi bahan bakarnya saja 20 kilometer per liter, tapi juga kasih syarat yang ketat seperti konten lokal harus 85 persen dan harus bangun pabrik di sini. Jadi ada investasi untuk meningkatkan pendapatan," kata Jonfis Fandy, marketing and aftersales service director HPM.

Menurut dia, bila program baru tersebut tujuannya untuk memelihara lingkungan, maka mobil hybrid-lah yang paling cocok, sebab emisi karbonnya lebih sedikit. (san)

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini