nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mana yang Lebih Dulu, Standar Emisi Euro4 atau Mobil Hybrid?

Santo Evren Sirait, Jurnalis · Rabu 16 Agustus 2017 11:52 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 08 16 15 1756905 mana-yang-lebih-dulu-standar-emisi-euro4-atau-mobil-hybrid-iq8J65fkwW.jpg (Foto: Okezone)

TANGERANG - Program low carbon emission vehicle (LCEV) dan standar emisi Euro4 sedang menjadi isu hangat dalam industri automotif saat ini. Kedua proyek tersebut tujuannya sama yaitu ingin mengembangkan industri automotif dalam negeri agar mampu bersaing dengan luar negeri serta menciptakan kendaraan ramah lingkungan. Dari keduanya mana yang kira-kira dapat diterapkan lebih dulu? 

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup (Permen) Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017 tentang Standar Emisi Euro4, maka untuk mobil dengan mesin bensin akan berlaku September 2018. 

"Euro 4 September tahun depan siap. Kilang minyak Balongan sudah diperbarui, harusnya bisa digunakan," kata Airlangga.

Bahkan, tambah dia, Pertamina sebagai pemasok bahan bakar sudah memiliki bahan bakar minyak yang memenuhi standar Euro4. Namun belum semua jenis BBM menggunakannya.

Sementara itu soal LCEV atau dikenal juga dengan program mobil rendah emisi, sampai saat ini regulasinya masih dibahas dan akan rampung dalam waktu yang tidak lama lagi.

"Kami dari pemerintah akan siapkan program LCEV, kendaraan dengan emisi rendah. Kendaraan emisi rendah itu termasuk di dalam hybrid dan electric. Regulasinya akan segera diterbitkan. Kami masih bicara dengan Kementerian Keuangan. Targetnya, LCEV berbasis electric ini di 2025 bisa 20 persen dari pasar atau 400 ribu unit. Perkiraannnya kan 2025 pasar 2 juta unit," terang Airlangga.

Lewat program tersebut agen pemegang merek mobil (APM) bebas memilih ingin memasarkan mobil hybrid, full electric, atau berbahan bakar alternatif. Semuanya bergantung pada kesiapan industri.

"Mana saja yang duluan bergantung siap atau tidak industrinya. Tetapi dari segi logika, hybrid tak butuh tambahan infrastruktur, jadi pasti industri akan pilih itu lebih dulu. Kalau yang namanya mobil listrik membutuhkan infrastruktur. Infrastruktur fasilitas charging kalau di luar negeri kebanyakan bekerja sama dengan pemerintah daerah terkait dengan tempat parkir dan lain-lain," terang dia.

Tidak hanya masalah infrastruktur, skema struktur pajaknya juga tengah digodok supaya nantinya mobil rendah emisi bisa dijual dengan harga lebih terjangkau.

"Struktur harga itu kan terbentuk dari tarif. Tarifnya itu nanti baik dari bea masuk maupun Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) akan diberikan insentif," pungkas Airlangga.

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini