Program LCEV, Mobil Hybrid Paling Realistis untuk Indonesia

Santo Evren Sirait, Jurnalis · Selasa 29 Agustus 2017 19:36 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 29 15 1765607 program-lcev-mobil-hybrid-paling-realistis-untuk-indonesia-rQvRt8D1D3.jpg (Foto: Okezone)

JAKARTA - Porgram mobil ramah lingkungan atau low carbon emission vehicle ( LCEV) masih digodok oleh Kementerian Perindustrian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Kementerian Keuangan.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D Sugiarto medukung segala hal yang dirancang oleh pemerintah. Ia berharap bila aturan itu disahkan bisa berjalan dengan baik dan berguna bagi industri automotif di Indonesia.

(Baca Juga: Skema LCEV, Produsen Tinggal Pilih Bikin Mobil Gas, Hybrid, atau Listrik)

"Pada intinya tentu kami sangat mendukung program LCEV, tetapi kami terus memberikan masukan-masukan ke pemerintah melalui Kemenperin agar peraturan-peraturan yang menyangkut pengembangan dari program ini nantinya dapat berjalan dengan baik. Kalau peraturannya dibuat sedemikain rupa tapi tidak jalan, itu enggak ada gunanya. Kita mau peraturan ini realistis sehingga nantinya dapat dipakai oleh para pengusaha atau industri LCEV dalam negeri," kata Jongkie, di Jakarta, Selasa (29/8/2017).

Dalam program LCEV, produsen mobil di Tanah Air bebas memilih teknologi yang akan diaplikasikan pada produknya, mulai berbahan bakar compressed natural gas (CNG), hybrid, plug in hybrid, sampai full electric. Tapi, khusus mobil full electric tidak bisa langsung diterapkan di Indonesia. Harus ada tahapan-tahapan yang dilewati hingga bisa dioperasikan di Indonesia.

(Baca Juga: Pemerintah Godok Roadmap Alat Transportasi Rendah Emisi, dari 20 Km/Liter hingga Nihil)

"LCEV ini kan kita artikan kendaraan ramah lingkungan, tetapi ini kan ada tahapnya. Kita tidak bisa serta merta masuk ke full electric, karena di situ diperlukan sarana dan prasarananya. Selain itu kesiapannya dari pasokan listrik dan lain-lain, juga di sini nanti industrinya," ungkapnya. 

Menurut Jongkie, mobil yang paling realistis untuk memulai program tersebut adalah berteknologi hybrid, kemudian plug in hybrid, baru masuk ke full electric. Tidak hanya sampai di situ, bisa jadi setelah full electric berkembang muncul lagi dengan teknologi fuel cell atau mobil listrik berbahan bakar hidrogen.

Lepas dari teknologinya, Jongkie berharap ada penyesuaian pajak bagi pelaku bisnis automotif yang menggeluti mobil listrik. Ia blak-blakan bahwa sudah seharusnya mobil ramah lingkungan itu tidak dibebani pajak tinggi.

"Karena kan dia (mobil ramah lingkungan) akan memakai bahan bakar yang sangat irit, sedangkan bahan bakar ini kan ada yang masih disubsidi. Nah di satu sisi subsidi akan berkurang karena irit bahan bakar. Di sisi lain diberikan keringanan dari segi perpajakan, supaya mobil ini bisa dikembangkan dan tumbuh. Misalnya dengan ada tarif pajak yang baik, bisa banyak pembelinya, juga bisa mobil ini diproduksi di Indonesia," pungkasnya.

(ton)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini