nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Alasan Ilmiah Remaja Berisiko Tinggi Alami Laka Lantas

Medikantyo, Jurnalis · Selasa 21 Januari 2020 17:46 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 21 87 2156212 alasan-remaja-berisiko-tinggi-alami-kecelakaan-lalu-lintas-N9JYY4pLFB.jpg Ilustrasi kecelakaan lalu lintas. Foto : Pixabay

Fenomena tingginya kecelakan pada remaja dapat diterangkan secara neurosains. Center for Disease Control and Prevention (CDC), Amerika Serikat menyebutkan, kecenderungan remaja berisiko tinggi mengalami kecelakaan lalu lintas ada di seluruh dunia. 

Ini karena semua remaja di seluruh dunia juga mengalami hal yang sama. Yakni otak emosional yang belum terkontrol. Inilah penyebab utamanya.

Yang dimaksud otak emosional menurut CDC, adalah otak yang disebut lobus frontal yang letaknya di bagian depan kepala. Kegiatan menyetir sangat dipengaruhi oleh kerja otak bagian ini.

Pada bagian yang menutupi lobus frontal terdapat bagian yang disebut korteks prefrontal. Ini merupakan daerah otak yang paling terakhir mencapai kematangan. 

Fungsi yang dilakukan oleh area korteks prefrontal adalah fungsi eksekutif terkait dengan kemampuan menentukan baik dan buruk dan konsekuensi masa depan dari kegiatan saat ini.

Bagian ini berkembang maksimal di usia 25 tahun. Itulah sebabnya kenapa remaja sering gegabah dan tidak hati-hati, karena otak bagian ini belum maksimal.

Ada bagian otak yang disebut amigdala, terletak di bagian tengah otak. Fungsinya sebagai pusat kendali emosi. Sebagian besar perilaku remaja dipengaruhi oleh amigdala sehingga mereka dapat bertindak secara irasional dan emosional.

Kecelakaan mobil merupakan penyebab utama kematian pada remaja usia 10-14 tahun, yaitu 27 kematian per 100.000 orang per tahunnya. Dari jumlah tersebut ternyata 2/3 dari total kecelakaan dialami oleh remaja laki-laki. Demikian data Badan Kesehatan Dunia World Health Organization menyebutkan.

Menariknya, risiko kecelakaan ini semakin meningkat bila remaja menyetir bersama temannya. Dengan satu penumpang sebesar 38 persen, menyetir dengan 2 penumpang sebesar 223 persen, menyetir dengan 3 penumpang atau lebih sebesar 400 persen.

Sedangkan menyetir sendiri sambil menggunakan telepon seluler memiliki risiko 410 persen untuk mengalami kecelakaan.

Sementara, kelompok remaja yang memiliki risiko tinggi mengalami kecelakaan seperti disampaikan Polres Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta dalam keterangan resminya antara lain :

1. Belum terampil dalam berkendara (frekuensi tertinggi adalah 0-18 bulan setelah kepemilikan SIM)

 2. Mengebut di jalan raya (yang dilakukan oleh 38% remaja laki-laki dan 25% remaja perempuan)

 3. Menumpang pada teman sebaya

 4. Menyetir pada malam hari (pada Pk. 21.00-Pk. 06.00)

 5. Menyetir dalam pengaruh alkohol dan obat-obatan

 6. Kondisi kendaraan yang tidak baik (sabuk pengaman yang tidak memadai atau mobil lama/old car)

 7. Menggunakan telepon seluler pada saat menyetir (memiliki risiko 4x mengalami kecelakaan).

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini