Tanpa Standardisasi, Pedagang Tentukan Harga Mobil Hybrid Bekas Cenderung Sepihak

Medikantyo, Jurnalis · Kamis 13 Februari 2020 16:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 13 52 2167972 tanpa-standardisasi-pedagang-tentukan-harga-mobil-hybrid-bekas-cenderung-sepihak-znI9QXSnqd.jpg Ilustrasi Bursa Mobil Bekas (Foto: Okezone/pool)

JAKARTA – Terbatasnya referensi dan acuan harga unit mobil hybrid di Indonesia, membuat pedagang mengambil untung dengan menentukan harga secara sepihak. Situasi ini cenderung merugikan pemilik kendaraan, lantaran penentuan harga menjadi tidak jelas.

Senior Manager Bursa Mobil Bekas WTC Mangga Dua, Herjanto Kosasih mengatakan, banyak pemilik mobil hybird yang datang menjual kendaraannya, dan mengeluh lantaran penentuan harga yang tidak jelas, tidak ada standarisasi.

 Bursa mobil bekas

"Biasanya pedagang hanya menentukan patokan berdasar kondisi mobil, berbeda dengan fasilitas purna jual milik agen pemegang merek yang standarnya jelas," ujar Herjanto kepada Okezone, Kamis (13/2/2020).

Menurutnya, faktor utama yang menjadi acuan bagi pedagang saat mengambil unit mobil hybrid dari konsumen, adalah kondisi baterai. Pedagang akan menghindari mobil dengan kondisi baterai mendekati masa kadaluarsa, karena ongkos penggantiannya masih tinggi.

Akan tetapi, bila pemilik mobil memiliki bukti baterai tersebut sudah diganti baru, bisa jadi pedagang akan menawarkan harga tinggi. "Karena penggantiannya masih terbatas dan mahal, apalagi kalau stok unit baterai tidak tersedia di pihak pemegang merek," ujar Herjanto menjelaskan.

Biasanya konsumen menerima harga bentukan pedagang terhadap unit mobil hybrid, karena tidak memiliki pilihan tempat menjual kendaraan tersebut. Berbeda dengan penjual mobil bekas yang memilki nama besar, yang biasanya memberi kesempatan konsumen ikut bernegosiasi membentuk harga.

 Bursa mobil bekas

Faktor lain yang menjadi catatan Herjanto adalah kesulitan pedagang melepas mobilnya secara cepat. Durasi mobil tersebut berada di tangan pedagang sebelum mendapat pemilik baru, bisa mencapai dua hingga tiga bulan. Periode itu tergolong lebih lama dibandingkan rata-rata penjualan kendaraan bermesin konvensional saat ini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini