nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perhatikan Kode Warna saat Memasang Ban Baru

INews.id, Jurnalis · Minggu 05 April 2020 07:57 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 04 05 87 2194326 perhatikan-kode-warna-saat-memasang-ban-baru-4IXiE44xrS.jpg (Foto: YouTube/Auto Repair Guys)

JAKARTA - Saat Anda ingin memasang ban baru sendiri, ada hal yang perlu Anda perhatikan. Dikutip inews, memasang ban tidak boleh sembarangan. Perhatikan kode warna pada ban sebagai panduan saat akan menempatkan pentil.

Manager Training Dunlop, Bambang Hermanu Hadi menerangkan, biasanya pada ban ada kode titik merah dan kuning. Untuk pemasangan ban baru perhatikan warna kuning untuk penempatan pentil.

"Kuning itu titik paling ringan dalam lingkaran ban. Pentil memiliki berat, jika disatukan titik beratnya akan saling menutupi sehingga balance," ujarnya, saat berbincang dengan jurnalis, beberapa waktu lalu.

Lalu bagaimana bila sudah dipasang ternyata ban bergetar? Bambang menjelaskan ini biasanya terjadi pada ban yang sudah botak diganti dengan yang baru. Jika setelah dipasang ban bergetar segera lepas. Selain kode kuning perhatikan kode warna titik merah.

"Kita tarik garis titik merah ke setengah pelek. Gunakan spidol atau kapur, sehingga ada tandanya di pelek. Kita putar 180 derajat. Setelah itu getarnya akan hilang insya Allah," kata Bambang.

Dia juga mengingatkan agar penggantian ban minimal dua alias sepasang. Dalam Pemasangannya harus satu poros kiri dan kanan terkait dengan keseimbangan daya cengkram kendaraan.

"Kalau ban botak, minimal harus diganti dua. Orang kebanyakan meminta pasang di depan. Mereka beranggapan kalau ban depan pecah kecelakaannya bisa fatal. Itu tidak benar. Ban belakang pecah juga bisa berakibat fatal," ujar Bambang.

Sebab itu, kata Bambang, ban baru idealnya dipasang di belakang, baik mobil yang berpenggerak roda depan maupun belakang. Pertimbangannya, dalam pengemudian ada istilah oversteer dan understeer. Ini yang harus perhatikan.

"Kalau ban depan baru, ban depan akan lebih mencengkram. Namun, ketika direm ban belakang akan meluncur karena daya cengkeramnya kurang, maka terjadi oversteer," katanya.

"Jika terjadi oversteer, kita harus cepat mengembalikan setir. Itu gerakannya lebih susah dibandingkan understeer," ujar Bambang.

Dia menyebutkan, jika dipasang di belakang, ban belakang cengkeramanya akan lebih bagus dan terjadi understeer putarannya lebih gampang dari oversteer.

"Misal, harusnya 20 derajat, namun mobil putarannya 5 derajat, tinggal ditambah saja putarannya. Jadi lebih baik undesteer daripada oversteer," kata Bambang.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini