Harga Mobil Listrik di RI Masih Mahal, Ini Caranya Agar Jadi Murah

Aditya Pratama, Jurnalis · Jum'at 06 November 2020 10:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 06 52 2305130 harga-mobil-listrik-di-ri-masih-mahal-ini-caranya-agar-jadi-murah-BUZomVHcea.jpg (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Perkembangan industri mobil listrik di Indonesia terganjal dengan masalah harga jual produk mobil listrik yang mahal. Karena itu, mobil ramah lingkungan ini masih belum menjadi pilihan masyarakat Indonesia.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyampaikan beberapa saran kepada pemerintah agar mobil listrik dapat menarik minat konsumen di Indonesia. Mahalnya harga mobil listrik menjadikannya sulit bersaing dengan kendaraan konvensional.

Tidak hanya itu, Gaikindo juga sangat memperhatikan terkait harga mobil listrik karena harganya tidak murah. Padahal 60 persen dari total penjualan mobil di Indonesia per tahun di kisaran harga di bawah Rp200 juta-Rp250 juta.

"Nah, sedangkan mobil listrik umumnya rata-rata harganya masih di atas Rp500 juta. Inilah yang perlu nanti kita sesuaikan dalam arti kata bisa ga merk-merk ini memproduksi mobil yang harganya di bawah itu," ujar Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto dalam acara Market Review IDX Channel.

Baca juga: Tidak Mudah, Ini Sederet Syarat untuk Jadi Sopir Presiden AS

Baca juga: Bus Khusus Presiden AS yang Diabaikan Trump

"Karena kalau tidak, pasarnya tentu tidak bisa sebesar yang hari ini ada, dengan adanya income per kapita masyarakat Indonesia, maka otomatis daya beli masyarakat kita itu ada di mobil-mobil dengan harga Rp250 juta ke bawah. Ini nanti kita carikan jalan keluar," kata Jongkie.

Dia menyampaikan, pertama terkait dengan industri nikel di Tanah Air. Di mana pemerintah saat ini terus mendorong agar industri tersebut dibangun di Indonesia yang bisa menjadi salah satu bahan baku untuk membuat baterai mobil listrik.

sia Dia menyebut, pentingnya pembuatan baterai mobil listrik di dalam negeri karena komponen dari mobil listrik yang paling mahal adalah baterai. Di mana harga satu buah mobil listrik, 40-45 persennya dari harga baterai.

"Nah, kalau itu bisa diproduksi di Indonesia dengan bahan baku yang ada nikel tadi, lalu dibuat smelther, menuju ke lithium, lalu dibuat di dalam negeri, kemungkinan besar harga baterai tersebut bisa turun, bisa lebih murah. Kita sudah berpengalaman kalau pakai komponen lokal lebih banyak maka mobil tersebut harganya akan jauh lebih murah," ujar Jongkie.

Berikutnya, lanjut dia, adalah pentingnya Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada mobil listrik. Jongkie menyebut, ini menjadi penting karena mobil yang ada saat ini dengan harga di bawah Rp250 juta, komponen TKDN-nya telah mencapai kurang lebih 80 persen.

"Nah itu sudah bukti nyata. Kalau kita bisa membuat baterai mobil listrik di dalam negeri dan lain-lain, kita berharap tentunya harga mobil secara keseluruhan bisa turun dari yang ada sekarang ini," kata Jongkie.

Dia menjelaskan, selain baterai, ada banyak komponen TKDN mobil listrik yang bisa dimaksimalkan di dalam negeri, seperti body, rem, roda, suspensi, sistem pengereman dan sistem kemudi yang sama dengan mobil konvensional.

"Sudah terbukti bahwa kita bisa membuat komponen-komponen tersebut di dalam negeri, barangkali nanti ada perubahan sedikit desainnya tetapi secara garis besar sama. Bahkan ada beberapa komponen yang tidak diperlukan, seperti radiator kan tidak butuh radiator di sistem pendinginnya," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini