Share

Mobil Listrik di Nusa Dua Bali Jadi Contoh Penerapan Transportasi Ramah Lingkungan

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 02 Maret 2022 13:40 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 02 52 2555226 mobil-listrik-di-nusa-dua-bali-jadi-contoh-penerapan-transportasi-ramah-lingkungan-Zak65FuFpe.jpg Ilustrasi (Shutterstock)

TRANSPORTASI di lokasi wisata menyumbang emisi karbon yang cukup berarti bagi keasrian tempat wisata, terlebih yang mengandalkan keindahan alam. Mobil listrik diyakini bisa jadi solusi.

Dijelaskan Vinsensius Jemadu, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, mobil listrik bisa jadi contoh nyata pemanfaatan transportasi ramah lingkungan dalam upaya menerapkan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.

 BACA JUGA: Ketika Sandiaga Uno Ingin Beli Mobil Listrik: Lagi Nabung Dulu Nih

"Di Nusa Dua, Bali, ada pengoperasian mobil listrik yang diinisiasi Grab Indonesia. Langkah itu bisa jadi contoh untuk lokasi wisata lainnya dalam penerapan ramah lingkungan," terang Vinsen dalam Webinar Kemenparekraf, Rabu (2/3/2022).

 

Upaya pengoperasian mobil listrik sudah dijalankan sejak tahun lalu dan dampaknya cukup berarti bagi lokasi wisata Nusa Dua Bali. Dengan mobil listrik, emisi karbon yang dihasilkan lebih minim.

"Hal seperti itu jadi pioner di daerah lain. Ya, mungkin di kawasan lain menerapkan kegiatan transportasi ramah lingkungan lainnya," tambah Vinsen.

 BACA JUGA: Sule Dapat Mobil Listrik Mungil Twizy Seharga Setengah Miliar, Intip Spesifikasi

Lebih lanjut, jika melihat ke Tiga Gili yang ada di Lombok, di sana lebih ramah lingkungan lagi. Alat transportasi yang diandalkan adalah Cidomo, becak, hingga sepeda rental.

Cara-cara seperti itu adalah upaya yang akan tingkatkan oleh Kemenparekraf, sehingga wisatawan terutama Eropa yang concern terhadap wisata berkelanjutan bisa memiliki alternatif wisata sesuai preferensi mereka.

Nah, soal aktivitas berkelanjutan, di beberapa lokasi wisata maupun hotel atau resort yang berada di sana, sudah menambahkan aktivitas seperti melepas-bebaskan penyu ke laut atau menanam mangrove.

"Cara-cara seperti itu akan terus dikembangkan dan ditingkatkan kualitasnya untuk memastikan kepuasan wisatawan tetap didapat dan penerapan konsep berkelanjutan dijalankan dengan benar," tambah Vinsensius.

 Ilustrasi

Perlu Anda ketahui, aktivitas di lokasi wisata yang paling tinggi menimbulkan emisi karbon adalah transportasi yaitu 49%. Karena itu, upaya perbaikan dan pengembangan di sektor transportasi di lokasi wisata perlu mendapat perhatian khusus.

Terlebih, dampak perubahan iklim bagi pariwisata Indonesia nyata di depan mata. Misalnya saja perubahan cuaca ekstrem, kerusakan terumbu karang, kenaikan permukaan laut, hingga kerusakan lingkungan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini