Share

Amerika Ingin Kendaraan Punya Fitur Pendeteksi Pengendara Mabuk, Ini Alasannya

Fadli Ramdan, MNC Portal · Kamis 22 September 2022 11:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 22 52 2672476 amerika-ingin-kendaraan-punya-fitur-pendeteksi-pengendara-mabuk-ini-alasannya-u2DyjXfNRR.jpg Ilustrasi mobil (dok Freepik)

NEW YORK - Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) menyerukan agar sistem pendeteksi alkohol menjadi perangkat standar pada mobil baru. Hal ini lantaran terjadinya kecelakaan fatal saat momen tahun baru 2021 silam yang menewaskan sembilan orang, termasuk tujuh anak-anak.

Dikutip dari Carscoop, Agen Federal menyatakan kecelakaan yang terjadi pada 2021 itu disebabkan oleh pengemudi yang mengalami gangguan kesadaran ketika memacu kendaraannya dalam kecepatan tinggi.

Untuk itu, Ketua NTSB Jennifer Homendy menegaskan perlunya alat pendeteksi alkohol pada pengendara untuk mencegah terjadi kecelakaan fatal.

Mengingat sebenarnya telah banyak kasus kehilangan nyawa di Amerika Serikat akibat berkendara di bawah pengaruh alkohol.

infografis

“Teknologi dapat mencegah kecelakaan yang memilukan ini, sama seperti teknologi dapat mencegah puluhan ribu kematian akibat gangguan mengemudi dan kecelakaan terkait kecepatan yang kita lihat di AS setiap tahun,” kata Homendy.

Jennifer Homendy menilai, sistem deteksi pengendara sedang berada di bawah pengaruh alkohol perlu diterapkan sesegera mungkin di Amerika Serikat. Ini dapat membantu NTSB membuat beberapa rekomendasi sebagai akibat dari kecelakaan itu.

Secara khusus, NTSB juga mendorong Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional (NHTSA) untuk meminta sistem deteksi gangguan alkohol yang terintegrasi. Nantinya, kendaraan akan berhenti secara otomatis jika pengendara terdeteksi mengonsumsi alkohol.

Banyak orang yang mendukung upaya untuk membasmi pengemudi mabuk, yang juga menyuarakan perkembangan teknologi. Diharapkan pembatasan kecepatan juga diterapkan agar kecelakaan akibat kecepatan tinggi dapat dikurangi.

Pada 2020, diperkirakan 11.654 kematian terjadi dalam kecelakaan akibat berkendara di bawah pengaruh alkohol. Pada tahun yang sama, ada 11.258 kematian dalam kecelakaan di mana setidaknya satu pengemudi melaju dalam kecepatan tinggi.

“Sistem ini secara pasif memantau kinerja pengemudi, untuk mengidentifikasi secara akurat apakah pengemudi itu mungkin berada di bawha pengaruh alkohol. Ini dapat mencegah atau membatasi pengoperasian kendaraan jika terdeteksi,” ucap Homendy.

Undang-Undang Investasi Infrastruktur dan Pekerjaan juga telah menyerukan agar teknologi pencegahan mengemudi dalam keadaan mabuk dan terganggu ditambahkan ke kendaraan baru.

Undang-undang tersebut diatur untuk mensyaratkan sistem yang dapat mencegah kecelakaan fatal. Namun, tanggal implementasi belum ditetapkan dan standar keamanannya sendiri saat ini belum ditetapkan.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini