Share

Benarkah Pertalite Lebih Boros dari Sebelumnya? Ini Penjelasan Pertamina dan Akademisi

Rizky Fauzan, MNC Portal · Kamis 22 September 2022 11:11 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 22 52 2672593 benarkah-pertalite-lebih-boros-dari-sebelumnya-ini-penjelasan-pertamina-dan-akademisi-OkiMjnkMlX.jpg SPBU (dok Sindonews)

TERDAPAT beragam keluhan pengguna kendaraan bermotor yang mengisi bahan bahan minyak (BBM) jenis Pertalite . Setelah naik harga, BBM yang biasa digunakan itu terasa lebih boros daripada sebelumnya.

Menanggapi itu, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Irto Ginting mengatakan, produk BBM Pertamina jenis Pertalite (RON 90) tidak mengalami perubahan spesifikasi.

Menurutnya, standar dan mutu Pertalite yang dipasarkan melalui lembaga penyalur resmi di Indonesia sesuai dengan Keputusan Dirjen Migas No. 0486.K/10/DJM.S/2017 tentang Standar dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar Minyak Jenis Bensin 90 Yang Dipasarkan Di Dalam Negeri.

infografis

"Batasan dalam spesifikasi Dirjen Migas yang menunjukkan tingkat penguapan pada suhu kamar di antaranya adalah parameter Reid Vapour Pressure (RVP). Saat ini hasil uji RVP dari Pertalite yang disalurkan dari terminal bahan bakar minyak (TBBM) Pertamina masih dalam batasan yang diizinkan, yaitu dalam rentang 45-69 kPa (Kilopascal), " kata Irto saat dihubungi MNC Portal.

Dia mengungkapkan, penguapan dapat berubah lebih cepat jika temperatur penyimpanan meningkat. Secara spesifikasi, batasan maksimum untuk penguapan (atau yang biasa dikenal dengan istilah destilasi) Pertalite adalah 10%, dibatasi maksimal 74 derajat Celsius.

"Secara umum produk Pertalite ada di suhu 50 derajat Celcius. Artinya, pada saat tempertur 50 derajat Celsius, Pertalite sudah bisa menguap hingga 10%. Semakin tinggi temperatur, maka akan semakin tinggi tingkat penguapan," ungkapnya.

Irto menuturkan, melalui lembaga penyalur resmi (SPBU dan Pertashop), Pertamina berkomitmen untuk menyalurkan produk-produk BBM berkualitas sesuai dengan spesifikasi.

Melalui kontrol kualitas, produk yang tidak sesuai spesifikasi tidak akan disalurkan ke lembaga penyalur.

Sementara itu, akademisi dari Kelompok Keahlian Konversi Energi Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yuswidjajanto Zaenuri mengungkapkan bahwa apabila pengguna BBM Pertamax beralih ke Pertalite, konsumsinya memang akan menjadi boros. Alasannya, bilangan oktan atau Research Octane Number (RON) Pertalite (90) lebih rendah ketimbang Pertamax (92/98).

"Wajar ya kalau daya lebih rendah maka otomatis bahan bakar akan lebih boros," kata Zaenuri.

Beda kasus jika pengguna sebelumnya juga memakai Pertalite. Dari biasanya cukup untuk seminggu, misalnya, kini mungkin sekitar 3-4 hari.

“Mungkin secara komposisi kimia senyawanya di dalam BBM berubah sehingga nilai kalori bensin berubah,” katanya.

Menurut Tri, nilai kalori yang menandakan kandungan energi pada bahan bakar ditentukan oleh senyawa kimia seperti karbon dan hidrogen.

Karena perbedaan senyawa itu misalnya, minyak solar per kilogram lebih tinggi kandungan energinya daripada bensin.

Perubahan senyawa juga bisa mengakibatkan perubahan massa jenis ataudensitybensin. Jika ukuran bensin sama-sama satu liter, namun massa jenis berkurang dari 820 menjadi 770 gram, pemakaian bensin pasti akan jadi boros.

“Jadi begitu density berubah maka nilai kalori per liternya berubah,” kata Tri.

Untuk itu, menurutnya, ada yang bilang kalau mengisi BBM jangan siang hari ketika panas terik, atau ketika BBM baru diisi di SPBU.

Hal itu, kata dia terkait densitas yang berubah. Masalahnya, kata Tri, dalam spesifikasi minyak dan gas sebagai syarat boleh tidaknya bahan bakar dijual di Indonesia, tidak diperhitungkan soal nilai kalori.

“Karena itu tidak ada ketentuan nilai kalori dalam spesifikasi,” ujar dia.

Kondisi itu menurut Tri berlaku umum pada transaksi bahan bakar transportasi komersial. Berbeda misalnya pada batu bara yang harganya justru ditentukan oleh nilai kalori. Atau pada industri, ada yang menerapkan standar internasional BBM pada suhu 15 derajat Celsius.

“Di bahan bakar kita tidak mengenal itu, kenalnya cuma rupiah per liter,” katanya.

Beberapa hari lalu Pertamina menanggapi isu tersebut, bahwa tidak ada perubahan dalam spesifikasi produksi Pertalite. Soal jawaban itu, Tri merespons, “Ya memang, tapi ada kemungkinan nilai kalorinya yang berubah.”

Perubahan itu disebutnya bukan disengaja.

“Nggak, itu tergantung dari minyak buminya,” katanya lagi.

Dari sumur minyak bumi yang sama, Tri menuturkan, hasilnya bisa berbeda ketika diolah menjadi bahan bakar.

Kilang hanya memproses namun sifat-sifat senyawa merupakan bawaan dari minyak bumi. Karena itu pula nilai densitas di berbagai SPBU bisa berbeda sehingga tidak setiap pengguna merasa boros bahan bakar.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini