Share

Kisah Tragis Jatuh Bangun Pabrikan Mobil Borgward di Jerman

Citra Dara Vresti Trisna, Okezone · Rabu 12 Oktober 2022 19:28 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 12 52 2685938 kisah-tragis-jatuh-bangun-pabrikan-mobil-borgward-di-jerman-iVnQ8NSlvV.jpg Salah satu produk Borgward. (Foto: commons.wikimenia.org)

JAKARTA – Industri otomotif Jerman memang terkenal maju. Sebut saja BMW, Audi, VW, Mercedes-Benz dan banyak lainnya adalah pabrikan kendaraan asal Jerman yang telah mendunia. Tapi, siapa sangka dibalik kesuksesan itu, terdapat kisah jatuh bangun mereka di masa lalu, seperti halnya Borgward.

Perusahaan-perusahaan otomotif yang bertarung habis-habisan di masa kemelut perang dunia membuat mereka jatuh bangun dan mau tidak mau bertahan apapun situasinya. Borgward adalah salah satu pabrikan kendaraan yang terpaksa harus gugur di tengah persaingan dan kondisi sulit setelah Jerman kalah perang.

Sebenarnya Borgward adalah salah satu pabrikan mobil yang cukup disegani. Perusahaan ini pernah mencecap masa kejayaan sebagai produsen mobil premium di tahun 1950.

Dikutip dari laman Auto Houstuffworks, Rabu (12/10/2022), Carl F. W. Borgward merupakan seorang beraliran Nazi sekaligus industrialis Jerman yang menggeluti perusahaan suku cadang. Perusahaan suku cadang inilah yang menjadi cikal bakal dari perusahaan Borgward.

Tekadnya yang kuat dan ketertarikannya pada industri otomotif mendorongnya memproduksi kendaraan sendiri pada tahun 1924 di usia yang relatif muda, yakni 34 tahun. Karya besar pertamanya diberi nama Blitzkarren, van roda tiga untuk segmentasi pedagang yang mencari kendaraan kecil.

Borgward Blitzkarren. (Foto: Auto.howstuffworks)

Borgward yang cerdas mampu membuat produknya hanya dikenakan pajak sepeda motor yang lebih mudah dibandingkan pajak roda empat. Bahkan, untuk mengoperasikan kendaraan ini tidak memerlukan surat izin mengemudi.

Follow Berita Okezone di Google News

Tapi, kegemilangan Borgward tidak berlangsung lama. Di tengah kemelut perang dunia, Borgward terkena pribahasa “sudah jatuh tertimpa tangga”. Sempat ada rumor yang menyebut perusahaan otomotif, termasuk borgward, diwajibkan membuat kendaraan militer untuk menyokong perang Jerman yang berkepanjangan.

Tiga tahun dibuat babak belur lantaran membantu Nazi memenangkan perang dari sisi sokongan kendaraan, Borgward juga harus gigit jari saat pabriknya di Breman ludes lantaran bom sekutu.

Mendapati perusahaannya ambruk, Borgward tak cepat putus asa. Ia mencoba bangun kembali apa yang telah runtuh, termasuk perusahaannya. Berbekal jatah material pascaperang, Borgward mencoba bangkit dengan keputusan cerdas membagi diri ke dalam entitas yang berbeda: Borgward, Goliath dan Llyod. Hal ini memungkinkan masing-masing perusahaan mendapat jatah bahan baku.

Kecerdasan di awal itu tidak berlangsung lama. Ia mendapati kenyataan pahit dari keputusannya membagi perusahaan jadi tiga. Namun, di sisi lain, masing-masing perusahaan berjalan sendiri-sendiri dan tidak berbagi suku cadang dan sumber daya. Padahal, tanpa kerja sama, dibutuhkan biaya yang mahal untuk mencukupi suku cadang di masing-masing perusaan.

Sayangnya, Borgward mungkin telah melakukan kesalahan fatal. Setiap perusahaan mengoperasikan departemen teknik dan pembeliannya sendiri, artinya mereka tidak berbagi suku cadang dan sumber daya. Bagaimanapun, dibutuhkan banyak uang untuk mengembangkan setiap bagian dari setiap mobil.

Borgward Isabella. (Foto: garagevandervelden)

Di tengah keterbatasan, Borgward masih meluncurkan model Isabella yang populer dan banjir peminat. Begitu juga dengan Borgward yang baru dengan fitur yang cukup canggih kala itu, yakni suspensi udara dan transmisi otomatis. Hal ini membuat Borgward nampak berjaya. Bahkan di tahun 1959, perusahaan melaporkan pendapatan hingga $158 juta.

Kemudian sebuah artikel di majalah Jerman Der Spiegel pada tahun 1960 menyebut Borgward terguncang. Hal inilah yang kemudian membuat partai politik yang berkuasa menahan pinjaman kepada Borgward hingga akhirnya runtuh di tahun 1961.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini