Share

Kurangi Limbah, BMW Minta Masyarakat Perpanjang Usia Mobil Lama

Muhamad Fadli Ramadan, MNC Portal · Jum'at 02 Desember 2022 15:23 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 02 86 2719380 kurangi-limbah-bmw-minta-masyarakat-perpanjang-usia-mobil-lama-WDkBb7notG.jpg Ilustrasi. (Foto: Istock)

JAKARTA – Head of the Sustainbility Team BMW Monika Dernai menyarankan agar pemilik kendaraan lebih lama dalam menggunkan kendaraan. Menurutnya, hal itu dilakukan untuk mengurangi penumpukan limbah.

Meski saat ini seluruh pabrikan berlomba memproduksi kendaraan listrik, tapi menurutnya hal itu bukan satu-satunya solusi.

“Kita benar-benar perlu memikirkan untuk memperpanjang umur mobil, bukannya menempatkan ke pasar mobil bekas. Gunakan mobil yang ada dan perpanjang umurnya. Mungkin Anda bisa menyegarkan interior,” kata Dernai seperti dikutip dari AutoExpress, Jumat (2/12/2022).

“Kami membutuhkan keahlian baru di (industri) aftermarket dan merancang mobil agar mobil bekas terlihat seperti mobil baru. Itu juga bisa membuat seseorang tidak membeli mobil baru. Tapi kami masih memiliki bisnis model seperti BMW dan seluruh masyarakat mendapat manfaat dari itu,” ujar Dernai.

Seperti diketahui, saat ini setiap produsen sedang berlomba membangun mobil ramah lingkungan dengan menciptakan mobil listrik. Itu juga yang dilakukan BMW dengan memperkenalkan sejumlah line-up elektrifikasi.

Dia menyarankan agar pasar mobil perlu diubah sesuai dengan ekonomi sirkular dengan mengatakan bahwa masih ada kebutuhan kepemilikan mobil baru di masa depan.

Follow Berita Okezone di Google News

“Bisakah kita benar-benar memindahkan semua orang ke angkutan umum? Saya kira jawabannya adalah tidak. Anda khawatir dengan transportasi umum di Inggris, tetapi jika Anda melihat AS, keadaannya bahkan lebih sepi. Jadi saya pikir masih ada pasar untuk mobil di luar sana,” ucapnya.

Geoff Mulgan, profesor kecerdasan kolektif, kebijakan publik dan inovasi sosial di University College London juga mengatakan beberapa kota di Eropa telah mendorong masyarakatnya untuk berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi umum.

Mulgan mengakui bahwa konsep seperti itu dapat dianggap sebagai “puritan” dan “otoriter” jika diterapkan di negara-negara tertentu.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini