Share

Periskop 2023: Dilema Pasang Target Penjualan Kendaraan di Tengah Isu Resesi Ekonomi

Citra Dara Vresti Trisna, Okezone · Kamis 12 Januari 2023 22:58 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 12 52 2745364 periskop-2023-dilema-pasang-target-penjualan-kendaraan-di-tengah-isu-resesi-ekonomi-986pDzDfsM.jpg Ilustrasi. (Foto: Dok.Okezone)

JAKARTA – Beberapa saat usai bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19, industri otomotif di Indonesia dihadang badai resesi dan pelemahan ekonomi nasional. Meski begitu, sejumlah stakeholder di bidang sektor otomotif tetap optimis di 2023. Lalu, bagaimana potensi industri otomotif di tahun 2022?

Sebelum menuju ke tahun 2023, perlu dilihat kilas balik industri otomotif di tahun 2022. Gabungan Industri Otomotif Indonesia (Gaikindo) menyebut industri otomotif di Indonesia pada tahun 2022 relatif lebih baik dan stabil dibanding tahun sebelumnya saat pandemi menyerang.

Gaikindo mengungkapkan, data wholesales atau penjualan dari pabrik ke dealer pada periode Januari-November 2022 telah mencapai 942.449 unit atau meningkat sebanyak 19,4%. Pada tahun 2021, penjualan kendaraan hanya sekitar 761.890 unit.

Ia mengklaim, daya beli masyarakat di Indonesia lebih baik dibanding negara-negara maju. Pihaknya juga berharap, penjualan kendaraan dapat terus meningkat agar dapat menetapkan target tinggi pada tahun 2023.

Jongkie juga menyebut, peran pemerintah melalui regulasi juga berpengaruh pada peningkatan industri otomotif di tahun 2022. Di sisi lain, pemerintah juga berupaya mengatasi masalah kelangkaan krisis semikonduktor yang masih menghantui pabrikan kendaraan di seluruh dunia dan juga di Indonesia.

Berkaca dari penjualan kendaraan di tahun 2022 dan pertimbangan isu resesi pada tahun 2023, Jongkie mengaku tak berani pasang target tinggi tahun ini. Pihaknya hanya berharap penjualan kendaraan bisa sedikit lebih baik atau sama seperti pada tahun 2022.

Pada tahun ini, Gaikindo hanya memasang target 975 ribu unit. Jumlah tersebut sedikit lebih banyak dibanding dengan penjualan di tahun 2022. Jumlah tersebut, kata Jongkie, berdasarkan pertimbangan perekonomian bakal memburuk.

Follow Berita Okezone di Google News

Di sisi lain, pihaknya mengaku harus tetap optimis menghadapi tahun 2023. Optimisme tersebut diwujudkan dengan tidak menurunkan target di tahun 2023.

“Tahun depan, proyeksi kita itu 975 ribu. Kita berharap Indonesia bisa selamat dari resesi dan mudah-mudahan itu enggak turun, ya (daya beli),” kata Jongkie Sugiarto, dikutip dari Antara, Rabu (23/11/2022).

Pihaknya mengaku berhati-hati dalam menentukan target dan mengajak semua pihak bersama-sama merumuskan target yang realistis.

“Ada resesi dan juga inflasi, makanya kita hati-hati dalam menentukan proyeksi untuk tahun depan,” imbuh Jongkie.

Jongkie menambahkan, cara lain untuk optimistis adalah dengan cara mengajak pabrikan kendaraan untuk menghadirkan produk dengan harga yang relatif terjangkau agar daya beli masyarakat pada produk otomotif tidak menurun. Pabrikan, kata dia, juga diminta menghadirkan produk yang benar-benar diminati masyarakat.

Menurutnya, salah satu ciri kendaraan yang diminati pasar otomotif saat ini adalah kendaraan dengan dimensi besar yang mampu mengangkut banyak penumpang dan dijual dengan harga murah.

Sementara itu, pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai, masalah pelemahan ekonomi pada 2023 dapat teratasi dengan adanya insentif yang diberikan pemerintah untuk mendorong peningkatan pertumbuhan industri otomotif.

Menurutnya, insentif dapat memberi pertimbangan tersendiri bagi masyarakat serta pemain otomotif di Indonesia. Sedangkan hambatan pembelian kendaraan juga dapat terhambat karena permasalahan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. Hambatan pembelian kendaraan akibat BBM hanya terjadi pada kendaraan yang menggunakan pembakaran internal. Namun, di sisi lain, kenaikan BBM dapat meningkatkan pembelian pada kendaraan hybrid dan listrik.

Kelangkaan semikonduktor masih menghantui

Selain terancam kelangkaan semikonduktor, pabrikan kendaraan di Indonesia masih harus menghadapi ancaman kelangkaan chip semikonduktor. Meski ini merupakan masalah global, namun masalah ini bisa menurunkan rasa enggan membeli karena banyak kendaraan yang untuk membelinya harus inden lama.

Yannes mengungkapkan, peningkatan permintaan masyarakat pada produk otomotif menjelang akhir 2022 hingga awal 2023 harus diimbangi dengan suplai yang juga baik.

“Pola konsumsi masyarakat terhadap produk otomotif akan meningkat seiring dengan akselerasi pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang begitu optimis di kisaran 4,4-5,25 persen, jauh di atas pertumbuhan ekonomi global yang akan terjadi di Indonesia pada tahun 2023,” kata Yannes, dikutip dari Antara, Selasa (3/1/2021).

Kelangkaan semikonduktor yang jadi permasalah global menghambat suplai kendaraan, termasuk di Indonesia. Menurut Yannes, indicator lemahnya suplai dapat dilihat dari keterlambatan pengiriman unit ke konsumen. Bahkan, kelangkaan tidak hanya terjadi pada mobil, tapi juga pada motor.

Meski sejumlah pabrikan bersikukuh permasalahan semokonduktor telah teratasi, namun faktanya masalah suplai kendaraan masih terhambat. Lebih parahnya lagi, lanjut Yannes, kelangkaan semikonduktor dapat menghambat produksi mobil berteknologi interface.

Menurut Yannes, masalah semikonduktor terparah akan dialami oleh pabrikan kendaraan yang berfokus pada produksi kendaraan listrik. Karena, kebutuhan semikonduktor pada kendaraan listrik tiga kali lebih besar dibanding mobil berbahan bakar internal.

Terkait kendaraan yang bakal laku pada 2023, Jongkie memprakirakan selera pasar otomotif di Indonesia tidak akan jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Meski saat ini sedang gencar dipromosikan mobil listrik, namun harga jual mobil listrik yang belum terjangkau membuat selera pasar belum beralih dari sebelumnya.

Adapun selera pasar otomotif diprakirakan masih di seputar mobil segmen multi purpose vehicle (MPV) dan kendaraan low cost green car (LCGC). Kedua segmen ini masih jadi primadona dan solusi di tengah pelemahan ekonomi, baik akibat Covid-19 atau pada badai resesi 2023.

Hal senada juga disampaikan pengamat otomotif Bebin Djuana. Menurut Bebin, penjualan kendaraan yang akan terus meningkat pada tahun 2023 adalah MPV. Menurutnya, kendaraan dengan tipe sport utility vehicle (SUV) juga akan meningkat seiring dengan pertambahan kendaraan SUV baru yang diluncurkan pabrikan kendaraan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini